Menuju lokasi masjid ini cukup mudah dan menarik. Dari Batam,
perjalanan dilakukan dengan menaiki kapal penyeberangan feri menuju
Tanjungpinang. Lama perjalanan sekitar satu jam.
Sekitar lima belas menit, kubah masjid Penyengat mulai terlihat
jelas. Suatu pemandangan yang memadukan antara keindahan alam dengan
ketinggian religiusitas lingkungan sekitar. Akhirnya, tampaklah masjid
itu dengan utuh.
Warna kuning tampak dominan. Ada 13 kubah di masjid itu yang
susunannya bervariasi. Ditambah dengan empat menara yang masing-masing
memiliki ketinggian sekitar 19 meter, dan bubung yang dimiliki masjid
tersebut sebanyak 17 buah. Angka ini diartikan sebagai jumlah rakaat
shalat.
Masjid yang tercatat dalam sejarah sebagai merupakan satu-satunya
peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang masih ada ini berukuran sekitar 54
x 32 meter. Ukuran bangunan induknya sekitar 29 x 19 meter.
Sejarahnya, pada tahun 1805 Sultan Mahmud menghadiahkan pulau
Penyengat kepada isterinya Puteri Raja Hamidah. Bersamaan dengan itu,
dibangun Masjid Sultan. Cuma waktu itu, masjid hanya terbuat dari kayu.
Kemudian, keturunan kerajaan setelah itu, Raja Ja'far membangun
Penyengat sekaligus memperlebar masjidnya.
Pembangunan masjid secara besar-besaran dilakukan ketika Raja Abdul
Rahman memegang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844)
menggantikan Raja Ja'far. Tak lama setelah memegang jabatan itu, pada 1
Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu, setelah usai
shalat Ied, ia menyeru masyarakat untuk bergotong royong membangun
masjid.
Dalam gotong royong itulah, masyarakat membawa berbagai perbekalan.
Termasuk telur. Karena berlimpah, banyak putih telur yang tidak habis
dimakan. Dan oleh pekerja, putih telur itu dijadikan campuran adukan.
Menurut mereka, dengan campuran putih telur, bangunan akan lebih kokoh
dan tahan lama.
Dari situlah, masyarakat sekitar juga menyebut masjid penyengat ini dengan masjid putih telur.
Selain bangunan yang indah, masjid Penyengat menyimpan mushaf Alquran
tulisan tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk.
Mushaf ini ditulis oleh putera Riau yang dikirim belajar ke Turki pada
tahun 1867. Namanya, Abdurrahman Istambul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar